bukasuara.com,Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Sentimen global ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan mendorong penguatan dolar AS di pasar internasional.
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, rupiah tercatat melemah sekitar 30 poin atau 0,18 persen ke level Rp16.923 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di kisaran Rp16.893 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang dinilai dapat memicu ketidakstabilan ekonomi global.
Konflik Iran vs AS-Israel Tekan Sentimen Pasar
Analis pasar uang menilai bahwa meningkatnya tensi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor utama yang memicu pelemahan mata uang di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang cenderung tertekan karena investor memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, konflik yang berpotensi meluas juga dapat memicu lonjakan harga energi global. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak cukup sensitif terhadap kenaikan harga energi yang dapat memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Harga Minyak dan Arus Modal Asing Jadi Faktor Tambahan
Tidak hanya konflik geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia yang terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Harga minyak global dilaporkan sempat menembus sekitar 92 dolar AS per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yang turut meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, sehingga memperlemah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Rupiah Berisiko Fluktuatif Jika Konflik Berlanjut
Para ekonom memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dalam jangka pendek jika konflik Iran dengan AS dan Israel terus memanas.
Ketidakpastian geopolitik global biasanya berdampak langsung pada pasar keuangan, terutama di negara berkembang yang lebih sensitif terhadap perubahan sentimen investor global.
Meski demikian, beberapa analis menilai pelemahan rupiah saat ini masih relatif terkendali dibandingkan beberapa mata uang negara lain yang juga terdampak konflik geopolitik global.
Prospek Rupiah ke Depan
Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau perkembangan pasar dan siap melakukan langkah stabilisasi apabila volatilitas rupiah meningkat.
Langkah seperti intervensi di pasar valuta asing atau kebijakan moneter lain dapat ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Dengan situasi geopolitik yang masih belum menentu, pelaku pasar kini menantikan perkembangan konflik Iran dan AS-Israel yang berpotensi menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.






