Pengamat : Jangan Hanya Baiknya Risma Saja yang Dibahas, Kekurangannya juga Banyak

SURABAYA – Dua nama yang kini santer disebut jadi bakal calon walikota dan wakil walikota Surabaya akhirnya buka suara dan blak-blakan kepada media terkait niatnya maju Pilwali Surabaya.

Pegiat Kewirausahaan Sosial Dimas Oky Nugroho (mantan Stafsus Kantor Presiden RI) dan Presenter Agnes Santoso hadir dalam diskusi media yang diselenggarakan Ondomohen Syndicate Media Discussion (Osmed) di Bangi Kopi (Kopitiam), Jalan Ondomohen Surabaya, Rabu (31/7/2019) petang.

Tema diskusi adalah Zaman Bergerak: Transformasi Kekinian Sosial Politik dan Ekonomi Indonesia. Diskusi juga menghadirkan Hari Fitrianto, Dosen FISIP Unair Surabaya yang juga peneliti The Initiative Institute serta Gigih Prihantono, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Surabaya.

“Bagi saya, untuk menjadi walikota, pemimpin kota itu memang harus butuh kompetensi yang tertentu. Apalagi tadi disampaikan benchmark (tolok ukur)-nya sudah jelas kan Bu Risma yang luar biasa beliau ini. Meskipun juga, sesungguhnya di antara berbagai kelebihan beliau itu, sesungguhnya masih banyak celah-celah yang jadi pekerjaan rumah (PR) walikota terpilih berikutnya. Cuman saya pribadi, saya menyatakan bahwa memang saya tidak punya rencana untuk maju dalam Pilwali Surabaya,” tegas Dimas kepada wartawan.

Dimas memperhatikan nama-nama bakal calon walikota yang telah disebut dan beredar di media, termasuk dirinya sendiri, banyak yang lebih dasyat dan bagus kualifikasinya dibandingkan dirinya.

“Banyak yang memiliki kemampuan memimpin kota semaju dan sebesar Surabaya. Semoga ini bisa menjawab dan mengklarifikasi berbagai isu yang mengatakan bahwa saya maju Pilwali Surabaya. Saya membantah. Saya tidak punya niat, tidak punya rencana secara politik, bahkan saat ini pertemuan ini saya ingin mengajak anak muda dalam konteks politik dan ekonomi nasional. Saya terimakasih kepada Mbak Agnes, Mas Gigih dan Mas Hari sudah mau hadir berdiskusi dengan media hari ini,” jelasnya.

Menurut dia, Walikota Surabaya mendatang tidak perlu dibandingkan dengan sosok Risma. Jika masih berpedoman pada figur Risma, maka Surabaya tidak akan maju.

“Kepemimpinan Bu Risma itu sudah bagus, terutama dalam hal membangun infrastruktur. Nah, kalau walikota mendatang masih fokus pada Infrastruktur lagi, kapan bidang lain maju,” ujarnya.

Pegiat Kewirausahaan ini mengatakan bahwa sejauh ini opini masyarakat pada umumnya, terpaku pada siapa sosok pengganti yang setara dengan Risma.

Padahal, lanjutnya, masyarakat harusĀ  digiring pada program-program yang gagal atau yang belum dikerjakan Risma bagi warga Surabaya.

“Jangan keberhasilannya saja. Ini tugas praktisi, media, pengamat. Agar, Surabaya bisa maju dalam berbagai sektoral,” lanjutnya.

Dimas menyebutkan, bahwa 34 persen warga Surabaya adalah pendudukĀ  berusia muda. Apalagi kalau malam hari, Kota Surabaya yang eksis itu anak anak muda. “Nah, carilah pemimpin yang peduli anak muda, agar anak muda Surabaya bisa kreatif, syukur-syukur pemuda Surabaya bisa jadi embrio pemuda nasional. Kalau fokus taman lagi, berarti hanya meneruskan kepemimpinan lama,” tuturnya.

Bagaimana dengan Agnes Santoso? “Kalau menjawab soal isu pencalonan, saya juga hampir sama dengan Mas Dimas Oky Nugroho. Artinya, saya tidak pernah ada niatan apapun untuk maju. Karena tidak mudah memimpin kota. Untuk menjadi seorang negarawan, tidak harus memegang sebuah jabatan,” tukasnya.

“Dan, selama inipun saya juga diskusi-diskusi. Artinya, tidak pernah ada niatan khusus benar-benar untuk maju sebagai walikota dan wakil walikota. Ada banyak kompor profesional, niatnya mungkin meramaikan, supaya mendorong yang lain maju. Cukup mengejutkan, sekelas Kota Surabaya, itu tidak ada satupun persiapan siapa yang akan menjadi the next leader. Bahkan, dari parpol pengusung Bu Risma juga dipersiapkan, selama ini juga masih pecah dukungan,” imbuhnya.

Pengamat ekonomi Unair Surabaya, Gigih Prihantono berharap ekonomi Surabaya bisa ditingkatkan kembali.

“APBD Surabaya cukup besar. Tapi, yang dipakai tidak maksimal. Nah, kenapa tidak memanfatkan anak-anak muda potensial dalam hal ekonomi. Ini ked epan harus bisa dilakukan,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here