30 Ribu Warga Malang Bersholawat, #2019 Tetap Bersaudara, Bersatu untuk NKRI

MALANG : Getaran Ilahiah di acara Kabupaten Malang Bersholawat (KMB) yang bertemakan “Bersatu untuk NKRI Guna Keselamatan Bangsa dan Negara” berhasil membius sekitar 30.000 umat muslim se-Malang Raya dan sekitarnya, di Lapangan parkir Stadion Kanjuruhan, Sabtu (27/10/2018).

Puluhan Ribu massa itu hadir bersama sejumlah kiai dan gus dari berbagai pesantren di Malang Raya beserta jamaah Dzikir dan Sholawat Riyadlul Jannah. Sejumlah kiai dan gus serta santri dari Ponpes diluar Malang juga hadir seperti dari Kediri, Blitar, Pasuruan, Tulungagung, Sidoarjo, Probolinggo. Diantara massa juga terdapat sekitar 1.000 warga Sumber Manjing Wetan yang tergabung dalam Gabungan Remaja Islam (Garis).

Kegiatan yang bertujuan menjaga keutuhan NKRI itu merupakan hasil kerja bareng sejumlah organisasi islam di Kabupaten Malang yaitu Nahdatul Ulama, Dewan Masjid, Forum Santri Nasional (Forsana) yang didukung penuh Pemkab Malang.

Habib Abdurahman Baraqbah, pimpinan Khodimul Majelis Riyadlul Jannah yang mengawali acara, berharap lantunan zikir dan sholawat ini bisa menembus arsy dan menghasilkan energi untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Sedangkan pengasuh Ponpes (PP) Langitan Tuban KH Agoes Machsum Faqih (Gus Maksum) yang datang sebagai tamu, dalam sambutannya, mengingatkan umat muslim menjaga persaudaraan di tengah perbedaan yang kian meruncing akhir-akhir ini.

“Sebagai bangsa yang dikaruniai keberagaman, marilah kita bersyukur dengan menjadikan keberagaman sebagai harmoni. Tidak menjadikan perbedaan sebagai perpecahan tetapi sebagai rahmat dari Allah SWT untuk bangsa,” terang pencetus hastag #2019TetapBersaudara tersebut Minggu (28/10/2018).

Karenanya, sebagai negara dengan penganut muslim terbesar di dunia umat Islam Indonesia harus bisa menjaga keutuhan NKRI hingga hari akhir nanti. Apalagi Republik Indonesia ini lahir merupakan hasil perjuangan yang membutuhkan korban jiwa, raga hingga materi tak terhitung dari darah para alim ulama dan santri untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

“Tantangan yang kita hadapi nanti akan semakin berat. Kita pasti akan mampu menghadapi jika bersatu padu. Ukhuwah wathaniyah harus kembali diteguhkan. Siapapun kita, apa pun suku dan golongannya, kita tetap bersaudara. Kita semua adalah anak-anak ibu pertiwi,” tegasnya.

KH Anwar Iskandar, pengasuh PP AL Amin Kediri Kota yang jadi pembicara terakhir, juga sempat mengingatkan akan peran umat Islam sebagai generasi penerus yang wajib menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di acara yang berlangsung hingga minggu dinihari tersebut, KH Anwar Iskandar membandingkan tantangan ulama di masa lalu dengan saat ini maupun masa mendatang.

“Dulu, karomah ulama dan kiai atas izin Allah SWT bisa mengusir Inggris dan Belanda yang ingin kembali menjajah negeri ini. Mereka punya keunggulan teknologi dan senjata lebih modern. Faktanya, ketika Mbah kiai Hasyim Ashari mengeluarkan fatwa yang menjadi dasar keluarnya resolusi jihad, ghiroh untuk membela bangsa dan negara memenuhi dada jutaan umat Islam di republik yang baru diproklamasikan. Perlawanan mereka turut memberi andil besar dalam mengusir bangsa penjajah,” bebernya.

Sedangkan ulama saat ini maupun di masa mendatang, punya tantangan untuk menghadapi musuh tak terlihat. “Inilah proxy war. Perang yang tidak terlihat tapi bisa menggerus NKRI dan umat Islam. Mulai dari paham radikal hingga radikalisme dengan memanfaatkan teknologi informasi dengan tersebarnya informasi-informasi hoaks di dunia maya,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here